Type Here to Get Search Results !

Dalam Kepemimpinan, John Kenedy Azis Tempatkan Budaya sebagai Perekat Sosial dan Jati Diri Daerah

John Kenedy Azis dan Nita Christanti Azis 


Padang Pariaman —Di tengah arus modernisasi dan tantangan globalisasi yang kian kuat, Bupati Padang Pariaman Dr. John Kenedy Azis, SH, MH tampil sebagai sosok kepala daerah yang menempatkan budaya sebagai fondasi utama pembangunan daerah. Meski baru beberapa bulan memimpin, komitmen dan langkah konkret yang diambilnya telah menunjukkan arah jelas: membangkitkan, melestarikan, dan memajukan budaya Minangkabau sebagai identitas sekaligus kekuatan ekonomi Padang Pariaman.


Beragam kebijakan dan program inovatif digagas, tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menyentuh akar budaya masyarakat hingga ke tingkat nagari dan korong.


“Padang Pariaman 100 Festival”: Budaya sebagai Strategi Pembangunan


Salah satu program unggulan yang menjadi tonggak kebangkitan budaya adalah pencanangan “Padang Pariaman 100 Festival”. Program ini dirancang sebagai strategi pembangunan berbasis budaya, ekonomi kreatif, dan promosi daerah.


Melalui ratusan agenda festival yang tersebar di seluruh nagari, pemerintah daerah mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam melestarikan seni, adat istiadat, kuliner tradisional, sekaligus membuka ruang inovasi lokal. Festival-festival ini diharapkan mampu memperkuat kohesi sosial, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperluas promosi pariwisata Padang Pariaman ke tingkat nasional hingga internasional.


“Setiap nagari memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Jika dikelola dengan baik, budaya bukan hanya warisan, tetapi juga sumber kesejahteraan,” menjadi semangat yang terus digaungkan Bupati JKA.


Festival Nagari, Kebangkitan Budaya dari Akar Rumput


Komitmen membangun nagari melalui budaya diwujudkan dalam berbagai festival yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Beragam kegiatan tradisi seperti layang-layang, bajulo-julo, batagak gala, batagak kudo-kudo, batagak rumah gadang, gasiang, malamang, juadah, tulak bala, silek, hingga ulu ambek, kembali dihidupkan sebagai rangkaian festival nagari.


Beberapa festival yang telah sukses digelar antara lain:


Festival Juadah Nagari Toboh Gadang Barat, upaya pelestarian kuliner klasik khas Padang Pariaman yang mulai langka, sekaligus pemberdayaan UMKM dan seni tradisi.


Festival Tuah Sepakat II di Lubuk Alung, digerakkan oleh generasi muda dengan menampilkan tari tradisional, randai, dan gandang tasa.


Festival Tani Nagari Padang Toboh Ulakan, sebagai ajang promosi budaya pertanian dengan pertunjukan silek sawah, tari piriang sawah, hingga prosesi adat.


Festival Nagari Lareh Nan Panjang, yang menampilkan kreativitas lintas generasi dan menjadi momentum penguatan ekonomi lokal.


Festival Anak Nagari Kampung Galapuang, Ulakan Tapakis (3–9 November 2025), yang diramaikan dengan silat tradisional, tambua tasa, pasambahan adat, bazar UMKM, inovasi pertanian, layanan kesehatan, hingga hiburan rakyat.


Festival-festival ini menjadi bukti nyata bahwa budaya hidup dan tumbuh dari masyarakat, bukan sekadar agenda pemerintah.


Penguatan Warisan Budaya: Dari Nasional hingga Dunia


Di bawah kepemimpinan Bupati JKA, Padang Pariaman mencatat prestasi penting dalam pelestarian budaya. Pada 10 Oktober 2025, tiga Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) kembali ditetapkan secara nasional di Gedung The Tribrata, Jakarta, yakni Maniliak Bulan, Malacuik Marapula, dan Indang Tigo Sandiang.


Dengan penetapan ini, total WBTB Padang Pariaman mencapai 15 warisan budaya, melengkapi daftar sebelumnya seperti Tabuik, Indang Piaman, Ulu Ambek, Gandang Tasa, Malamang, Bungo Lado, hingga Batagak Kudo-kudo.


Tak hanya itu, pada 21 Agustus 2025, Makam Syekh Burhanuddin di Ulakan Tapakis resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional, menegaskan posisi Padang Pariaman sebagai salah satu pusat penting sejarah dan peradaban Islam di Minangkabau.


Mauluik Gadang: Tradisi Besar yang Dihidupkan Kembali


Agenda besar lainnya adalah suksesnya penyelenggaraan perdana “Padang Pariaman Mauluik Gadang”, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar secara kolosal oleh pemerintah daerah.


Rangkaian kegiatan seperti lomba qasidah, zikir sarafal anam, tabligh akbar, festival malamang, festival bungo lado, makan bajamba, hingga shalawat dulang melibatkan OPD, sekolah, masyarakat ranah dan rantau, serta dihadiri pemerintah provinsi dan kabupaten/kota se-Sumatera Barat.


Melihat dampak sosial dan ekonomi yang besar, Bupati JKA menetapkan Mauluik Gadang sebagai agenda tahunan, sekaligus tradisi baru yang memperkuat nilai religius, budaya, dan kesejahteraan masyarakat.


Babudaya Minang dalam Kehidupan Sehari-hari


Gerak cepat juga ditunjukkan Bupati JKA dalam menindaklanjuti SE Gubernur Sumatera Barat Nomor 4 Tahun 2025 tentang Babudaya Minang. Kebijakan tersebut langsung diterjemahkan menjadi SE Bupati Padang Pariaman, dengan berbagai pembiasaan budaya, antara lain:


Pemakaian batik Minang setiap Kamis


Pemakaian baju koko guntiang cino dan baju kuruang basiba setiap Jumat


Penggunaan bahasa Minang dalam acara resmi


Penggunaan pantun dan pasambahan dalam sambutan


Penyajian kuliner tradisional Minangkabau pada kegiatan resmi


Pembiasaan budaya Minang di lingkungan sekolah, termasuk bahasa, busana, dan jajanan tradisional.


Pemakaian deta bagi laki-laki setiap Kamis di lingkungan OPD dan nagari


Dalam keseharian, Bupati JKA bahkan kerap menggunakan bahasa Minang lama yang nyaris punah dalam pidato dan dialog dengan masyarakat. Langkah ini menjadi cara halus namun kuat untuk mengingatkan generasi muda agar mengenal dan menggunakan kembali bahasa daerahnya.


Budaya sebagai Jati Diri dan Masa Depan


Apa yang dilakukan Bupati Dr. John Kenedy Azis bukan sekadar program, melainkan gerakan budaya. Budaya ditempatkan sebagai jati diri, perekat sosial, sekaligus penggerak ekonomi rakyat.


Komitmen inilah yang menjadikan Padang Pariaman tidak hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga menyiapkan masa depan yang berakar kuat pada nilai-nilai budaya Minangkabau.


Inilah bukti nyata kepemimpinan Bupati Padang Pariaman yang peduli, konsisten, dan visioner dalam membangkitkan budaya daerah. (Tim IKP Kominfo Padang Pariaman) 

Posting Komentar

0 Komentar

Below Post Ad